Cahyo


Namanya Cahyo, aku juga baru nanya namanya hari ini. Padahal aku udah langganan lalapan di ibunya udah lebih dari setahun. Awalnya anak ini diem aja. Belakangan ini dia mulai ramah dan nanya-nanya tentang Kiandra dan Kalinda.

“Tante, adiknya nonton apa sih?”, dia nanyain Kiandra yang lagi nonton hp.

“Tante aku pake wifi lho”

“Tante pake youtube atau youtube go? Kalo aku pake youtube go biar irit”

Dia ramah dan sopan. Dia bahkan beliin snack Gery Saluut buat Kiandra katanya.

Iseng aku tanya apa cita-citanya. Dia jawab “aku mau jadi pembawa truk sampah”.

“Kenapa?”

“Iya biar sampah-sampah di kota ini semuanya bersih, biar nggak banjir”

“Wahhh keren banget cita-cita kamu”, hampir sama kayak cita-citaku dulu waktu SMP. Bedanya, Cahyo ini kelas 1 SD saat ini.

Dia bantu ibunya bawain air kobokan (air cuci tangan) buat pelanggan-pelanggannya.

Seneng ya ketemu anak-anak kayak gini. Semoga dia jadi anak baik dan sukses ke depannya. Tapi ibunya biar jual lalapan dulu untuk sekarang, soalnya aku suka banget sama nasi uduk dan sambel mix nya wkwkkwks.

Lokasi: nasi uduk barat jalan

Iklan

Perjuangan Kita

Orang nggak akan peduli tentang kisah cinta kita. Kita pacaran 9 tahun kemudian menikah, itu bukan kejutan untuk orang-orang. Aku dari SMA udah dianter jemput sama kamu, jadi orang-orang nggak akan bertanya lagi siapa pacarku? Dan orang-orang nggak akan bertanya dengan siapa aku ingin menikah?

Karena dari awal aku udah milih, kamulah calon suamiku kelak.

Nggak banyak orang yang tau gimana perjuangan kita bertahan. Yang orang pedulikan mungkin cuma gimana cara mendapatkan. Sedangkan bagi aku, lika liku tajam yang menguji kita lah yang penting untuk diceritakan ke anak-anak kita nanti.

Dengan kamu aku belajar banyak. Belajar bersabar karena kamu selalu menguji kesabaranku, errrghhh πŸ˜†

Jangan Lupakan

Would it be nice to hold you..

Would it be nice to take you home..

Would it be nice to kiss you..

Apakah akan lebih baik jika aku menahanmu pergi? Akankah lebih baik jika aku menolak keputusanmu? Apakah kamu telah kehilangan perasaanmu? Atau kamu hanya mempermainkan perasaanku?

Tidakkah kamu pernah memikirkanku sedetik saja? Tidakkah kamu pernah berusaha mencariku? Mengapa kamu selalu melekat di pikiranku? Pergilah.. Di saat aku mulai melupakanmu, mengapa kamu tiba-tiba hadir seperti petir?

Memang, kamu adalah patah hati terindah, tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya mengacaukan pikiranku. Aku juga rapuh. Luka itu membekas sepanjang hidupku.

Pergilah, aku mohon..

Jangan hadir di pikiranku lagi, di mimpiku, di bayanganku..

Relationship Goal

Apaan sih itu?


Jujur aja ya, dari awal ketemu dan deket Rai, aku yang masih labil waktu itu, berpikir “inilah calon suamiku”. Tanpa tau sifatnya kayak gimana, history dia kayak gimana, bahkan keluarga dia kayak gimana. Pokoknya mikirnya udah dunia milik berdua aja.

Ada beberapa yang komen tentang kami, bahwa kami salah satu contoh relationship goal, karena beberapa alasan, menurut mereka yang ngomong langsung ke kami, terutama ke aku.

* pacarannya langgeng (9 tahun pacaran dan akhirnya nikah)

* nikahnya setelah lulus kuliah dan dapet kerja

* romantis, mesra, seperti sahabat dan yang sejenisnya

Sedangkan sebenarnya, relationship goal kami dari dulu adalah nikah dan punya anak-anak yang lucu, dan pastinya happily ever after seperti dongeng dan film. Itulah tujuan kami pacaran, nggak tau kenapa, kami ngerasa cocok dan punya tujuan yang sama. Jadi, aku nggak enak kalo disebut relationship goal, kurang tepat.

Karenaaaaa..

* Kami udah pengen skip ke hari pernikahan, dari sejak awal pacaran, udah mikir, kamu nanti jadi istri aku ya, kamu nanti jadi suami aku yaa, kita nanti sama-sama sampe tua yaa, dan impian mainstream lainnya. Nggak punya goal lain kayak liburan ke luar negeri atau beli rumah (ini contoh yang bener-bener kurang tepat hha..).

* Lulus SMA, nikah nggak ya, pasti nggak dikasi sama ortu, nggak akan ada yang setuju. Tahan.. Lulus kuliah, mikirnya, lamar aku donk, ajak aku nikah donk, eh nggak dilamar juga. Tahaaann.. Cari kerja dulu, nabunglah minimal buat cetak undangan dan prewed wkwkkw.. Udah kerja setahun, yuk nikah, eh tertunda lagi karena suatu masalah, sempet kecewa berdua juga karena nikahnya ditunda. Yahh, tapi hari happily ever after akhirnya tiba. Dan begitulah kami menjalaninya.

* Awalnya sih Rai tuh romantis banget 100%. Tapiii.. Lama-lama berkurang kok gaesss hahahhaha. Romantis pas lagi mood. Kami malah juga sering berantem, berantem parah sampe hancur-hancuran juga pernah. Sama-sama pernah selingkuh juga (waktu pacaran). Pernah saling menyakiti, lalu saling merindukan dan membutuhkan. Ketawa, marah, sedih, nangis, kecewa, susah, seneng, kami sama-sama. Dari labil sampe sekarang udah agak dewasa dikit.

Kesimpulannya..

Ternyata, relationship goal yang di instagram itu hanya sebuah foto. Aku dan Rai selama ini, nggak punya relationship goal. Nggak punya cita-cita ingin menjadi pasangan yang seperti apa. Taunya cuma jalan aja. Taunya cuma, besok kita mau ngapain. Besok anak-anak sarapan apa. Besok ada rencana apa kita.

Kadang nuntut juga sih. Kamu romantis dikit donk, kamu peka dikit donk, kamu sabar dikit donk, kamu perhatiin aku donk. Biasanya sih aku yang banyak nuntut perubahan. Susah lho mengubah orang. Rai jarang, dia cuma bilang, kamu nggak ada yang kurang kok, kamu apa adanya aja. Prett juga sih yaa wkwkkw.

Kadang kami akur, rukun, seringnya kami di depan umum (terutama di depan keluarga) kami berantem berdebat, tapi habis itu ya akur lagi, peluk lagi, sayang-sayangan lagi.

Jadiii..

Relationship itu ternyata perjalanan, bukan tujuan. Kami tuh jalan bareng, terserah ke mana. Ngobrol bareng, melewati jalan yang sama, merasakan prosesnya bersama. Kadang tersandung juga, ngerasa sakit juga, trus lanjut lagi bareng.

Tujuannya apa? Ke mana?

Kami menuju hari esok, ke mana aja bisa, rencana dan tujuan kami banyak sekali. Kami cicil tiap hari. Yang terpenting, bersama.

Udah, gitu aja sih 😊

Selamat bermalam minggu..

Reli Sepeda

Dulu waktu aku kecil, kelompok pemuda di banjarku membuat acara reli sepeda. Kayaknya itu pertama kali aku ikut dan nggak pernah lagi ada acara reli sepeda sejak itu wkwkwk.

Begitu aku bilang sama ajik bahwa besok mau ikut reli sepeda, ajik bilang “kalo reli berarti sepeda hias”. Aku sih nggak ngerti ya. Trus waktu itu ajik sibuk menghias sepedaku. Kertas jagung warna warni dipotongin, ditempelin di sepedaku.

Tapiii, kok agak-agak norak ya. Trus aku bilang sama ajik untuk stop menghiasnya, aku nggak mau terlalu heboh. Ajik sih agak kecewa, hihihi.

Ternyata, pas ke banjar, aku aja sendiri yang sepedanya dihias donk. Yang lainnya pada biasa aja donk. Duh syukur aja nggak terlalu heboh. Aku agak malu waktu itu, tapi aku menikmati acara kok.

Terima kasih Ajik, sampe sekarang pun aku masih menjadi anak kecilmu yang selalu butuh dukunganmu..