Teman-teman, Ini Untukmu!

Untuk tulisan ini, aku isi pengantar lagu, karena membaca tulisan seseorang sambil mendengar lagu dengan nada tertentu, bisa membawa kita lebih dalam.. dan ini lagu untuk tulisanku..

Aku, kadang gampang banget temenan sama seseorang, kadang juga susah banget buat nyambung sama orang. Sebenernya gampang aja aku nyambung sama orang, kalo nggak ngerti ngobrolnya ya aku tanya, aku nggak akan berpura-pura bahwa aku ngerti pembicaraannya. Kalo aku ngerti ya bisa langsung nyambung kemana-mana obrolannya. Tapi kadang ada aja sih yang nggak nyambung banget bangeeettt sampe kusut mikirnya biar nyambung ngobrol, dan akhirnya aku coret dari daftar teman yang nyambung. Jadi kalo pun ngobrol, nanti yang penting-penting aja, hahhha.

Sebenernya aku nggak punya banyak temen, temenku dikit bangeettt. Tapi, temen-temenku yang sedikit ini, adalah temen-temen yang berkwalitas. Nggak sembarang temen yang “oi bro gimana kabar, kerja di mana sekarang, aku punya usaha gini nih sekarang, gimana kalo kamu gabung bisnisku, bla bla bla”. Temen-temenku biasanya tau karakterku, biasanya seenggaknya tau sedikit sifatku yang mudah tersinggung, pemilih dan sifat-sifat buruk lain.

Tapi aku sering terlena. Ada temen baru, tanpa berniat lupa sama temen lama, akhirnya aku terlalu asik sama temen baru dan ninggalin temen lama. Dulu pernah sih ada temen yang bilang bahwa aku sengaja nggak liat dia, padahal aku bener-bener nggak liat dia. Bahkan ada temen yang jelas-jelas bilang bahwa dia merasa aku lupain dia.

Dilupain temen? Aku pernah. Lupa sama temen? Aku juga pernah. Nggak punya temen? Sering. Sering banget. Tapi aku salah. Aku nggak pernah nggak punya temen. Aku selalu punya temen. Si anu sibuk, si itu bisa dicari dan bantu aku. Si itu sibuk, tanpa diduga si anu dateng buat sekedar ngajak ketawa. Di saat aku susah pun, aku nggak nyangka malah temenku makin banyak yang mendekat.

Temen, walaupun nggak selalu ketemu, nggak selalu chatting, tapi kalian selalu ada di hatiku, selalu ada di dalam sejarah hidupku. Ini bukan lebay deh beneran. Bahkan aku punya prinsip yang sejak kecil aku masih jalanin hampir di semua pertemananku.

“Musuh temenku, musuhku juga”
“Temen musuhku, musuhku juga”

Hahahah, yang ini labil banget.

Temenku ada levelnya. Temen dari kecil sampai SMP, itu ada dalam satu kelompok. Temen SMA, ada dikit, dikit banget karena di masa SMA aku nggak terlalu bisa bergaul. Temen di banjar, lumayan banyak, sampe aku mewek pengen nangis waktu ninggalin mereka untuk nikah dan pindah ke banjar lain. Temen kuliah, lumayan banyak dan ada beberapa kelompok. Temen kerja di Trobex, hampir semuanya. Temen kerja di RC, hampir semua bisa nyambung (karena masih baru). Temen di grup Rumah ASI Bali, ada satu kelompok yang asik banget walaupun baru sekitar 3bulan berteman.

Di antara kalian, pasti banyak yang temennya jauh lebih banyak daripada aku. Tapi temen-temenku ini, adalah temen yang bener-bener kenal aku. Temen-temen inilah yang juga turut membangun karakterku. Ngajarin aku makna dari banyak hal. Membuka pikiranku. Kalo masih sungkan bercanda sama aku atau mengkritikku, berarti kalian belum fix jadi temenku, temen ya sekedar temen aja.

Aku cuma bisa bilang, inilah aku, temen-temen. Inilah sifatku. Kalian udah tau dan kalian pasti tau, bahwa sifatku ini emang kayak gini dari dulu. Kalian harus tau, aku nggak pernah berubah kecuali kalian-lah yang memintaku berubah. Temen-temen, kalian berarti banget buat aku. Kalian yang baca pasti tau, iya kamu, kamu pasti tau bahwa aku lagi ngomongin kamu sebagai temenku. Makasih ya, makasih banyak, makasih udah jadi temenku. Cuma itu yang bisa aku bilang.

Alam terkadang senjang

Alam terkadang senjang πŸƒ

Tak usah lagi kau perkeruh semua cuaca buruk ini. Siapa lagi yang akan kau suruh tuk memayungi dirimu dari derasnya hantaman yang datang. Menjadi tak biasa bukan keinginan semua orang.

Tak usah lagi keluhkan panas yang menyengatmu. Teduhkan saja tubuhmu dibalik ciptaanNya yang rindang. Menghirup kesejukan adalah cara mensyukuri nikmatnya alam.

Tak usah kau kotori daerah kelahiranmu dengan nada sumbangmu. Biarkan saja dia mengalun dan menghampirimu dengan sajaknya. Peluk dia dengan tangan terbukamu, pada dialah nanti tubuhmu kan dibaringkan.

View on Path

Aku ini binatang jalang

img_20160322_130157_scaled

Melanjutkan quotes yang aku posting di path :

Udah biasa kalo suaraku nggak pernah terdengar. Udah biasa pendapatku nggak digubris. Udah biasa pertanyaanku nggak dijawab.

“Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang”

Aku biasa terpinggirkan dan menjadi nggak penting bahkan kadang dibuang,

paling untung menjadi pelengkap yang sekedar datang.

Pertama, aku suka banget sama puisi yang judulnya Aku buah karya Chairil Anwar. Puisi ini yang membuat aku suka sama karya sastra. Terlebih di tahun-tahun itu muncul film AADC yang dikenalkan oleh abangku. Waktu aku tonton, wah, aku merasa sehati dengan film AADC. Di dalamnya dibahas tentang sastra, kata-kata muak bisa menjadi lembut. Perasaan hancur dan tertutup bisa menjadi menenangkan.

Kedua, aku suka banget sama puisi Chairil Anwar ini terutama di bagianΒ aku ini binatang jalang. Setiap ada perasaan kesal dalam suatu komunitas atau sekelompok orang, kutipan itulah yang menyadarkan aku. Bahwa aku nggak penting-penting amat dalam beberapa populasi manusia ini. Sejak ada social media, entah berapa kali 2 kalimat ini menjadi statusku.

Aku

Kalau sampai waktuku

Ku mau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Jelas, aku nggak mau dipengaruhi oleh siapa pun. Suatu saat nanti, akan ada waktunya mereka membutuhkan aku, suaraku, isi kepalaku, kehadiranku. Tapi nggak akan semudah itu merayuku.

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Aku memang nggak seperti orang lain, aku punya sifat liar di dalam hati, aku juga buas. Aku bukan berasal dari keluarga pejabat atau orang terpandang, juga bukan dari orang kaya. Aku asli orang biasa. Dan mungkin di mata beberapa orang, aku ini orang nggak penting.

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih perih

Aku kuat. Bukan untuk disombongkan. Tapi aku bisa bertahan dalam perjalanan hidup yang kadang terbuang ini karena aku tau, bukan terpandang, bukan pejabat, bukan kekayaan yang akan membuat kita punya teman. Aku tau ketulusan itu ada, aku tau kejujuran itu masih kita junjung tinggi, aku tau menjadi diri sendiri dan apa adanya akan menjadikan diriku diterima oleh orang-orang yang baik dan menilaiku dari hatinya.

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Jelas. Di sinilah semangat itu terbakar. Bahwa ada yang lebih penting daripada uang. Ada yang lebih penting daripada gaya hidup. Ada yang lebih penting daripada mereka yang mengesampingkan aku. Ada yang lebih membutuhkan aku, saranku, kehadiranku. Ada yang lebih penting yang harus kita pedulikan.

Sudahlah, daripada ngomel-ngomel di sini, mending aku pulang dan peluk anakku. Melihat senyumnya dan membuatnya berlari saat aku kejar. Itu lebih membahagiakan.

Ya, aku ini binatang jalan. Dan aku bahagia walaupun dari kumpulannya terbuang…

Kita Lahir dengan Tanda

image

Yang di pipinya Kiandra adalah tanda lahir. Seperti bercak berwarna coklat. Setiap yang baru kenal kebanyakan bertanya “itu pipinya kotor kenapa?”. Jawabku hanya “itu tanda lahir”, ya lalu apa?

Banyak yang ngejek bilang “operasi aja”, ada juga yang bilang “itu rejeki”. Aku memilih nggak akan mengutak-atik ciptaan Tuhan ini.

image

Aku juga lahir dengan tahi lalat di dekat mata, bahkan besar dan menonjol. Jelek? Iya, jelek banget menurutku. Awalnya aku nggak percaya diri, terutama di masa-masa baru gede di mana aku sangat butuh kepercayaan diri. Setiap aku berkaca, rasanya pengen ambil pisau dan memotong benda hitam ini. Aku tutupi dengan rambut, poni, topi, apa saja, tapi tetap nggak bisa disembunyikan.

Teman-temanku ada yang mengejek, tapi kebanyakan teman-temanku mengejek hanya untuk bercanda. Bahkan ada yang mengabaikannya dan tahi lalat bukan penghalangku dalam bergaul.

Sejak saat itu aku nggak peduli lagi sama penampilan terutama tahi lalatku. Aku ini ciptaan Tuhan yang memang diberi tanda seperti ini. Aku nggak hina. Aku mensyukuri keadaanku yang sehat lahir dan batin. Dan aku berani bertatap muka dengan orang-orang tanpa harus menutupinya lagi.

Kiandra harus tau, tanda lahir dimiliki oleh semua orang, hanya saja letaknya berbeda. Dan itu nggak kotor, itu nggak buruk rupa. Perhatikan orang-orang yang bertanda lahir lainnya. Saat mereka tersenyum, kita yang melihat pun akan lupa pada ketidaksempurnaannya, dan terpukau pada ramah senyumnya.

Jadi, kita harus mensyukuri apapun keadaan kita. Yakinlah kecantikan hati nggak akan bisa dikalahkan oleh kecantikan apapun.

Kamu Pemberani?

image

Aku nggak mau diboongin. Aku suka orang jujur. Jujur adalah salah satu keberanian tingkat tinggi di mataku. Siapa yang berani jujur, dialah yang paling berani. Jujur kadang menyakitkan. Tapi nggak akan menyakitkan kalo yang kamu lakukan itu bener.

Aku emang pernah boong, pernah berkhianat, pernah curang. Aku mau berubah, aku niatkan, aku usahakan.

Kalau, kayaknya aku pernah tulis ini, kalau kamu mau boong, please, jangan buka rahasiamu sedikit pun. Jangan ada celah setitik pun aku untuk curiga. Rasa penasaran akan membuat aku jadi nggak nyaman, nggak tenang. Bahkan menyakitkan.

Jadi, apakah menjadi pemberani dan jujur bisa kamu lakukan?

Bukan Main-main

Dengarkan aku

Ini pintaku

Karena cintaku bukan main-main

Jangan kau pergi

Jangan kau lari

Karena cintaku bukan main-main

Kalau kau tak serius

Pergi jauh dariku

Karena hatiku hanya untukmu

Cintaku ini cinta yang sempurna

Bukan cinta main-main

Ohh, cintaku ini cinta yang abadi

Bukan cinta yang mudah diambil

 

Ngomongin cinta, nggak ada abisnya kali. Banyak lagu tentang cinta, banyak puisi tentang cinta, quotes tentang cinta, buanyaakkkk. Ada banyak versi juga. Banyak bangetttt. Tiap pasang punya versi sendiri-sendiri.

Apaan sih. Tiba-tiba denger lagunya Seventeen yang judulnya Bukan Main-Main. Jadi flashback ke kehidupanku di tahun 2010an, inget masa-masa galau hahahaha. Dan satu yang aku sadari, ternyata perasaanku ke dia tetep sama.

Masih cinta. Masih sayang. Masih suka berantem dan berdebat. Masih. Grafiknya makin tinggi, tapi makin seimbang. Yang dulunya berantem di angka 10, sekarang di angka 2. Sebaliknya, yang dulu sayangnya di angka 7, sekarang di angka 12. Banyak yang berubah, tapi isinya tetep sama.

Sebel, kecewa, pasti ada. Apalagi rasa sedih. Selalu ada. Dari SMA, kuliah, kerja, udah nikah, perasaan-perasaan macem gitu pasti ada. Cuma nggak sebanyak dulu. Tapi bobotnya lebih berat.

Kadang capek. Pengen single lagi. Atau pengen putus trus ngambek seharian. Hahahaha. Kayak anak abg. Tapi nggak bisa donk. Kita sudah dalam ikatan. Sudah punya anak juga. Nggak mungkin ngambek-ngambekan sambil bawa anak, trus baikan dan ciuman di bawah hujan kayak masa dulu. Nggak nggak, kita udah gede.

Makanya aku bilang. Aku banyak PR. Aku harus belajar dewasa lah, harus belajar mengalah lah, banyak banget. Tujuannya ya satu, lebih baik. Perasaan tetep sama, tapi sekarang harus lebih baik lagi.

Cintaku bukan cinta main-main.