Tidak Ada yang Benar, Tidak Ada yang Salah

Benarkah?

Setujukah?

Menggelitik telinga dan mata. Jika benar dan salah disamakan, bagaimana kita bisa menilai? Jika kita nggak menilai, bagaimana kita menjadikan diri lebih baik ke depannya.

Aku nggak setuju dengan kalimat itu. Trus, nggak ada motivasi untuk menjadi benar? Memang wajar melakukan kesalahan, tapi kalau kita tau itu salah, kenapa harus dilanjutkan atau diulangi?

Aku tau manusia banyak jenisnya. Tapi..

Aku berharap kita semua berusaha melakukan sesuatu yang baik dan benar. Berusaha nggak menyakiti orang lain. Berusaha nggak membuat orang lain marah atau sedih. Semua butuh usaha. Semua butuh perjuangan.

Semangat dan tetap berusaha ada di posisi benar πŸ™‚

Iklan

Bangga Menjadi Narablog pada Era Digital

Sambil membaca, sambil mendengarkan musik ini ya..

Aku tidak tahu dari mana datangnya, lihat-lihat Instagram Story, muncul iklan kompetisi blog yang sepertinya dari blogger senior. Temanya seperti di judul “Bangga Menjadi Narablog pada Era Digital”.

Dari awal aku membuat blog, aku sudah bangga sebenarnya, hai, aku blogger lho. Di Instagram profile pun aku tulis aku seorang blogger. Di daftar riwayat hidup pun aku tulis hobiku adalah blogging. Tapi, melebihi bangga, aku lebih merasa bahagia menjadi blogger atau narablog. Karena aku merasa aku punya teman curhat yang entah itu siapa, yang selalu mendengarkan aku, tanpa memotong pembicaraanku, atau meninggalkan aku di saat aku bicara.

capture

Tulisan pertamaku

Dari kecil aku hobi calistung, hahahha. Calistung itu baca, tulis dan hitung. Aku suka baca sejak tahu huruf-huruf, sampai sekarang, brosur cicilan motor saja aku baca detail. Sejak tau ada yang namanya buku diary untuk menulis, aku suka menulis. Suka tulis apa yang ada dalam pikiranku, seperti sekarang ini. Kalau hitung-hitungan, seru, menantang. Sekarang kita bahas tentang tulis saja ya.

Momen yang membuat bangga adalah saat ada teman yang mengatakan, “tulisanmu bagus dan tertata” walaupun yang dia baca adalah curhatanku. Pernah juga adik sepupu mengirim pesan di Messenger Facebook, “aku suka tulisan kakak, kayak tulus gitu, aku suka baca-baca blog kakak”. Senang rasanya, apa yang aku bagi, apa yang di dalam hatiku, bisa sampai ke orang-orang. Sejak itu aku berpikir kalau mau menulis, harus menulis yang positif, tidak bisa postingan curhat marah-marah, harus ada pesan dalam tulisannya.

Aku dari kecil bermimpi menjadi penulis. Bacaan yang paling melekat di ingatanku adalah Robohnya Surau Kami, dari sanalah aku ingin mencoba menulis. Aku ingin kuliah jurusan sastra, tapi saat lulus SMA, keluarga menyarankan jurusan IT lebih baik. Jadi mimpiku itu masih menjadi mimpi sampai sekarang. Aku ingin membuat buku, ingin orang-orang tahu aku lewat buku. Aku ingin punya karya, aku ingin membagikan sesuatu lewat tulisan.

Itu mimpiku, resolusiku, tiap tahun, bukan, tiap hari. Apalagi di akhir tahun yang biasanya aku menulis ringkasan perjalananku selama setahun, dalam hati dan pikiranku selalu memimpikan ingin menjadi penulis.

Belakangan ini, setiap membuka Instagram, aku cari lagi Instagramnya @nodi_harahap.Β Aku buka lagi syarat dan ketentuan kompetisi blog. Satu yang aku dapat dari mengikuti kompetisi ini, yaitu mengingatkan aku pada mimpiku. Siapa yang tahu? Terima kasih iklannya sudah mampir ke aku bang Nodi, aku ingat lagi, apa yang selalu aku lakukan walaupun jatuh berkali-kali, menulis πŸ™‚

Selamat Datang 2019

Berharap kebaikan datang dari segala penjuru. Berikan kami kesehatan dan keselamatan di mana pun kami berada. Berikan kami semangat sehingga rejeki pun datang pada kami.

Tahun lalu rasanya hmm, gimana ya. Tahun yang emosional banget, bahagianya bahagia banget dengan lahirnya Kalinda, juga bisa buatin upacara buat Kalinda. Sedihnya sedih banget karena kehilangan pekerjaan.

Tahun ini, 2019 ini, banyak banget aku gantungkan harapanku dan doa-doaku. Terharu lohhh nulis ini. Yaahh. Semoga pengalaman ini mendewasakanku, menjadikan aku pribadi yang lebih lebih lebih..

Terima kasih 2018..

2019 be nice yaa 😊

Tanjakan

Nggak tau kenapa, dari dulu kalo lagi naik mobil sama Rai trus ketemu jalan tanjakan dan harus berhenti di sana, dada berasa sesak, tenggorokan tercekat, rasanya jantung pun ikut memelankan diri.

Pas mau ngegas kayaknya kaki ikutan setting kopling, gas dan rem. Parno. Atau apakah namanya?

Perasaan kayak gitu memuncak waktu perjalanan ke Pura Besakih. Waktu itu macet dan diajak ngelewatin jalan nanjak berliku. Macet banget dan harus ngerem lama banget di tanjakan curam. Udah pasang rem tangan juga, tetep aja mobil kayak mau merosot ke belakang, ditambah bunyi kretek-kretek kreot-kreot mobil, aduhhh. Gelap. Aku pake mobil Agya kakakku yang cc nya kecil. Hmm..

Bersyukur banget ada orang dateng ngasi bantuan, ngasi ide dan jelasin ke Rai untuk nyalip mobil di depan karena kasian sama mobil kita. Trus penumpangnya turun. Aku, ortuku dan Kiandra yang waktu itu tidur sambil aku susuin, turun semua.

Aku ketakutan tapi ya mencoba keliatan tenang aja biar Rai juga nggak panikan gitu maksudku. Pas aku mau jalan kaki naik ke tanjakan itu sebelum Rai ngegas, aku balik lagi nyamperin Rai. Aku cium dia aku bilangin ati-ati dan aku suruh berdoa. Drama banget waktu itu deh. Trus Rai aku tinggal naik.

Dari atas aku berdoa dan merhatiin Rai mulai ngegas dan diarahin juga sama bapak yang tadi. Akhirnya berhasil naik. Menegangkan banget.

Sampe sekarang, aku tetep takut kalo ketemu lampu merah pas tanjakan, atau macet di tanjakan kayak di GWK itu, duhhh.. Doa terus deh..

Tau

Ada sesuatu yang nggak selalu kita berhak tau.

Selalu.

Selalu ada saja orang-orang yang menyembunyikan sesuatu dari kita demi sesuatu lain yang mereka sebut alasan.

Bisa saja itu sesuatu yang manis, atau malah memang sengaja nggak dibagi dengan kita saking pahitnya.

Semoga saja itu bukan luka. Bukan duka.

Semoga saja itu hanya sebuah rahasia sederhana yang patut dipendam.

Nggak semua.. harus.. kita.. tau..