Tau

Ada sesuatu yang nggak selalu kita berhak tau.

Selalu.

Selalu ada saja orang-orang yang menyembunyikan sesuatu dari kita demi sesuatu lain yang mereka sebut alasan.

Bisa saja itu sesuatu yang manis, atau malah memang sengaja nggak dibagi dengan kita saking pahitnya.

Semoga saja itu bukan luka. Bukan duka.

Semoga saja itu hanya sebuah rahasia sederhana yang patut dipendam.

Nggak semua.. harus.. kita.. tau..

Iklan

Kemoterapi

Aku bukan mau membahas apa itu kemoterapi.

Salah satu orang terdekatku terkena kanker payudara. Dari pemeriksaan, dioperasi untuk dicek apakah itu kanker atau nggak, menjalani kemoterapi tahap 1 sampai 6, panjang prosesnya. Yang bisa aku dan Rai lakukan, adalah mendukungnya danΒ  memberinya semangat untuk menjalani pengobatan. Dia orang yang ceria dan sangat baik. Dalam hubungannya dengan Tuhan maupun sesama. Dia aku beri 2 jempol.

Yang aku lihat, awalnya dia semangat berobat, walaupun pastinya dalam hati dia sedih dan galau. Kemudian dia terlihat sedih dan jatuh. Sekeluarga memberinya semangat untuk maju terus jangan menyerah. Dia mau susu edamame aku buatkan, dia mau susu kelapa aku buatkan, dia mau air kelapa aku carikan. Aku ajak Kiandra dan Kalinda bermain dengannya berharap setidaknya bisa membuatnya ceria karena bermain dengan anak-anak. Sampai dia bilang, ayo Kalinda gundul samaan sama aku, sambil ketawa.

Aku nggak pernah liat rontok rambutnya atau gundul. Aku nggak peduli dan nggak mau tau hal yang sudah dia tutup, itu privasinya. Yang aku pedulikan yang penting dia masih semangat dan senyum. Saat ini kemoterapi tahap 6 sudah dia jalani. Semoga dia tetap semangat menjalani pengobatannya. Karena nggak ada yang nggak mungkin. Kami semua berharap dia sehat seperti semula. Dan aku bener-bener salut ngeliat tegarnya dia.

Tegar bener-bener tegar. Tuhan nggak akan menguji manusia tanpa tau kemampuannya. Tuhan tau dia sanggup dan kuat. Kalopun keliatannya nggak sanggup dan nggak kuat, Tuhan pasti kasih kekuatan buat kita semua. Kita hanya harus tetap berharap dan percaya.

Tersenyumlah dan semangatlah. Kalinda sudah digundul, entah dengannya. Yang pasti, kami akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan seluruh keluarga.

πŸ™‚

Yang Dilupakan

Awalnya aku pikir semua hanya ada di film drama. Ternyata, di kehidupan nyata benar-benar terjadi. Seseorang bisa dilupakan karena miskin, pekerjaannya nggak keren, penampilannya nggak cantik, dan sejenisnya.

πŸ™‚

Yakinlah kawan, sebagai manusia, kita berharga. Asalkan tetap melangkah walaupun hanya satu langkah. Asalkan tetap berusaha walaupun masih gagal. Asalkan nggak berhenti. Asalkan bersyukur.

Mereka yang melupakan kita bukanlah hal yang penting-penting banget. Mereka yang menilai rendah kita dan nggak pernah memandang kita bukanlah yang harus kita pikirkan. Mereka pun nggak akan ngasi kita kesempatan untuk unjuk diri, buat apa mencari perhatian mereka, ya kan?

Lebih baik sekarang, kita perkaya diri kita dengan kebaikan. Kita sebarkan kebaikan, sebarkan senyum dan semangat. Yakinlah, ada banyak orang lain yang lebih menghargai kita, ingin berteman dengan kita, dan baik sama kita.

Ingat, utamakan kebahagiaan diri kita, bukan orang lain yang melupakan kita. Jangan pernah melupakan diri kita sendiri πŸ™‚

Kembali ke 0.5

Aku tau roda kehidupan itu berputar. Tapi nggak menyangka aja, ini masaku. Ini bagianku dan kesempatanku. Lagi jatuh? Buat kamu yang lagi jatuh..

Jatuh itu cuma perasaan aja. Perasaan kita sendiri, bukan kata orang. Orang-orang nggak akan tau pasti kapan kita jatuh. Mereka cuma bisa nebak dari luar aja. Nggak sedalam yang kita tau dan kita rasain.

Aku tiba-tiba inget, waktu pertama kali kerja setelah lulus kuliah. Gaji sekian sekian, sama ama sekarang. Dan barusan aku berpikir, nah ini, aku kembali ke titik nol. Trus ada ide nulis ini di blog dan setelah dipikir lagi, aku nggak kembali ke titik nol.

Ini titik 0.5.

Sejatuh apapun, sepertinya bukan berarti kembali ke awal, mengulang dari awal. Hello.. kita punya pengalaman, kita nggak sepenuhnya kembali. Mungkin dalam rupiah, kembali ke awal. Tapi, secara nilai atau value, kita sudah jauh lebih baik. Kita nggak sekosong dulu. Kita udah lebih berisi, kita udah punya modal. Apalagi sekarang, aku dapet rupiah seperti dulu dengan banyak keuntungan selain rupiah, yaitu waktu.

Jadi, tetaplah berjalan. Selangkah pun tetap penting untuk dijalani. Ada yang namanya masa tunggu, masa yang orang-orang bilang “wait and see”. Aku sekarang punya anak-anak yang butuh kasih sayang, aku akan berikan itu. Mereka masa depanku, aku harus beri mereka pupuk supaya mereka tumbuh dengan baik. Merekalah prioritasku saat ini.

Kamu? Coba kamu gali lagi, dibalik hal yang kamu sebut kurang beruntung, udah seberapa yang kamu lewati? Udah seberapa hebat kamu? Sadarilah, dengan kita sanggup dan bisa bangun di esok hari, kita sudah jauh lebih hebat dan syukurilah itu. Jadikan itu modalmu untuk melangkah..

πŸ™‚

Jangan Berharap Lebih

Berharap lebih akan menyakitimu, bahkan bisa menghancurkanmu.

Aku ingin, tapi nggak bisa.

Ingin membuat kalian nyaman dan bahagia, ingin memberikan banyak hal dan banyak pengalaman. Ingin melihat kalian seperti anak-anak lain. Pakaian bagus, mainan bagus, sekolah bagus, makan sehat dan enak, dan segalanya.

Tapi, hey!

Bukannya aku nggak ingin, bukannya aku nggak berjuang. Semua terjadi sekejap mata. Semua cita-cita dan harapan sempat terjeda. Bukan inginku, bukan mauku.

Aku berharap kalian bisa mengerti. Satu-satunya yang paling berharga yang bisa aku kasi ke kalian saat ini adalah waktuku. Bersyukur banget Tuhan ngasi kita rejeki sehingga cukup untuk hal-hal yang kita butuhkan.

Bersabarlah..

Beri aku waktu lebih, tapi jangan terlalu berharap. Mari kita sama-sama menyadari kemampuan kita. Jadilah anak-anak yang tangguh. Jadilah rendah hati.

Nggak ada yang kita kejar.

Bersyukurlah tanpa henti. Berjuanglah tanpa henti. Jadilah lilin yang menyala dalam kegelapan. Jadilah bermanfaat untuk sekitarmu. Jadilah penebar cinta dan kasih. Jadilah baik hati tanpa mengharapkan balasan. Tersenyumlah, semangatlah..

Cinta Ibu akan selalu ada untuk kalian, anak-anakku πŸ™‚

Nggak Jadi OSIS

Waktu itu aku pengen banget jadi OSIS. Hanya untuk merasa keren, tanpa tau harus ketinggalan pelajaran dan waktu. Eh, endingnya sesuai judulnya. Aku nggak jadi OSIS. Tapi ini cerita tentang bagaimana perjalananku yang berhubungan dengan OSIS.

Waktu ada pengumuman, aku semangat ikut daftar. Trus dateng sepulang sekolah, disuruh pake pakaian celana panjang dan baju putih panjang milik sekolah, persis seperti MOS dulu. Rai, pacarku waktu itu, sempet mengingatkan, mungkin ini mau latihan baris berbaris dan sejenisnya. Bener aja, waktu itu latihan baris berbaris, belajar minum air putih satu gelas dibagi sama sekian puluh orang, jalan jongkok, lari, dan sebagainya aku lupa yang lainnya.

Waktu itu, romantisnya, Rai dan sahabatnya nengok aku ke sekolah. Aku sempet jadi pusat perhatian dari kakak OSIS karena ditengokin pacar. Dan waktu pengumuman step awal ini, kami semua dinyatakan lulus. Dan harus melanjutkan step-step berikutnya. Entah kenapa, step berikutnya aku nggak dateng, beberapa kali, aku juga lupa waktu itu kenapa.

Trus, waktu latihan di lapangan Renon, aku usahakan datang. Nah, waktu itu, kami, diteriakin, dibentakin, pas lari dibentakin, pas berbaris dibentakin, sampe-sampe teriaknya di depan mukaku sendiri, dengan kontak mata. Menyakitkan buatku. Mungkin temen-temen lain nggak apa-apa. Tapi aku sangat marah. Jujur aja, aku memang menggerutu dengan kata kasar. Ada kakak OSIS yang liat, dan makin mencaci aku. Aku yang waktu itu udah sangat emosi, pergi dari barisan, ambil tas, dan menuju ke parkir. Mereka, kakak OSIS itu, teriakin aku. Dan aku teriakin balik “awas kalian semua!!!”.

Aku pergi sambil nangis wkwkkwk. Aku bukan pulang, tapi aku cari Rai. Dan Rai cuma bisa bilang “kan sudah aku ingetin”. Aku ngomel, tes mental sih tapi kan nggak harus mencak-mencak di depan muka. Bikin emosi. Kita udah capek, dibentak, nggak di depan muka juga. Dan aku memutuskan nggak usah ikut lagi. Ternyata ada juga temenku yang nggak jadi ikut juga karena terlalu keras ujian mentalnya.

Pernah sekali waktu aku dijemput sama Rai di depan sekolah. Dan waktu itu ada ketua OSIS juga lagi di depan sekolah. Aku bilang sama Rai “eh ada ketua OSIS”. Rai tiba-tiba mau nemuin dia. Aku udah larang tapi Rai mau ngomong aja katanya. Entah apa yang mereka omongin, kurang lebih Rai mengkritik cara OSIS dalam pelatihan.

Trus pernah juga, aku dan temenku lewat ruang OSIS. Aku nggak tau ada OSIS atau nggak di ruangan mereka. Temenku ngajak ngobrol, aku lupa lengkapnya obrolin apa, aku ingetnya temenku nanyain tentang makan babi, dan kami ngobrolin daging babi.

Ehhh, beberapa hari kemudian, aku dicari sama OSIS perempuan beberapa orang, yang waktu di Renon bentak-bentak aku. Aku menghadapi mereka sendirian. Mereka bilang aku ngejek mereka babi, memang sih mereka agak berisi, tapi aku nggak ada ngejekin mereka wkwkkwk, sensi banget sumpah. Trus mereka bilang tentang pacarku yang mengkritik ketua OSIS, harusnya bisa dilakukan di sekolah, masuk ke sekolah dan bicara di dalam sekolah. Lhoooo, ketua OSISnya waktu itu nggak ada mempersilakan masuk, Rai lho orang luar, masak nyelonong aja. Ketua OSISmu lho katanya oke dan menerima kritikan itu. Dan aku pun minta maaf sama mereka, kalo bikin tersinggung soal omonganku yang padahal nggak ngomongin mereka. Dan minta maaf soal Rai yang mengkritik mereka.

Udah sih, itu aja. Di sini aku nggak bermaksud ngomongin OSIS secara keseluruhan. Cuma beberapa poin kecil aja. Waktu itu, di jamanku itu, dan beberapa orang OSIS, nggak semuanya lho yaa, menurutku, pelatihan untuk menjadi OSIS, sebaiknya tegas tapi tetap santun. Beberapa orang OSIS, perempuan lho, membentak dengan kontak mata, itu kayaknya kurang gimana gitu. Melabrak untuk hal-hal yang belum pasti, bahkan aku satu menghadapi sekian orang dari mereka, walaupun cuma bicara, kurang pas aja.

Itu aja sih. Semua sudah berlalu, semua bumbu-bumbu masa remajaku hahahaha. Ini yang paitnya, yang lain manis kok, manis banget malah. Ini sisi lainku. Ini kekuranganku supaya pembaca tau heheheh. Dan dari semua yang terjadi, aku dapet banyak sekali pelajaran. Banyak perbaikan, dan berusaha membuang hal buruk dan menambah hal baik setiap harinya dalam pergaulan. Ditambah lagi, aku dari desa dan susah bergaul. Jadi waktu itu aku merasa sangat apes hahahha.

Tapi OSIS angkatan berikutnya sepertinya semakin baik, apalagi jaman sekarang, udah keren banget dan keliatan kompak. Semoga sekolahku semakin maju dan berkembang.

Musik dan Lagu

Dari kecil aku emang dikenalkan sama nada, lagu, musik dan kawan-kawannya. Jadi aliran seni ini rasanya selalu ada di hidupku sampe sekarang. Waktu kecil diajak mekidung, diajak nyanyi, denger dan selalu denger.

Kakak-kakakku juga punya bazzoka jaman itu dan suka stel lagu-lagu, di mana lagu-lagu itu menjadi favoritku juga sampe sekarang. Jadi nggak heran aku sampe sekarang selalu hidup dengan lagu dan musik, dari daerah terutama Bali, nasional maupun mancanegara.

Ada beberapa alasan aku menyukai musik atau lagu.

1. Karena lagu dan musiknya bagus

Contohnya: Andra and The Backbone yang tanpa lirik judulnya Surrender. Padahal kan nggak ada liriknya, tapi enak didenger, menambah fokusku biasanya dalam mengerjakan sesuatu. Seolah-olah membawa hati ke mana Andra ingin pergi. Amazing kan efeknya..

2. Karena lagu dan musiknya sesuai isi hati dan suasana

Nah ini nih. Aku nih orangnya baper-an. Kebawa perasaan melulu. Makanya kalo ikut ceramah atau nonton film drama, aku cepet banget terharu. 

3. Karena dikenalkan oleh seseorang

Seperti yang aku tulis di atas, aku suka lagu-lagu yang diputar oleh kakak-kakakku waktu aku kecil sekitar umur 4-5 tahun deh kayaknya. Sampe sekarang jadi suka. Misalnya lagu-lagu Yong Sagita, Widi-widiana, dll.

4. Karena dikasi oleh seseorang

Hihihi, lagu-lagu kenangan ini, nostalgia bersama pasangan atau mantan. Wakakkaka.. Contohnya: ada satu lagu yang selalu kami (aku dan Rai) jadiin booster kalo boring sama hubungan. Mungkin aku aja ya, Rai nggak, abis Rai tuh orangnya nggak peka gitu hahahha. Lagu ini adalah lagu yang dia nyanyiin waktu kami pdkt, sambil dia main gitar. Trus liriknya juga diSMSin sama dia. Kayak ungkapin perasaan gitu. Jadi melekat sampe sekarang. Lagunya berjudul Ruang oleh The Cat.

Musik, lagu, nada.. Melekat banget sama aku, mungkin juga kita semua. Banyak makna di dalamnya. Aku berharap musisi dan seniman kita selalu semangat berkarya. Keindahan itu masuk ke dalam hati melalui telinga, lalu ke alam bawah sadar, ketok-ketok pintu semangat kita, trus terbuka dan kita jadi semangat deh πŸ˜‰